Wednesday, January 18, 2006
Seorang Mukmin ibarat matahari
"Kehidupan seorang mukmin ibarat matahari,
terbenam di satu wilayah untuk terbit di wilayah lainnya.
Dia selalu bersinar dan hidup
dan tidak pernah terbenam selamanya.
Mencitai Keindahan
Erich Fromm dalam bukunya ‘The Art of Loving’ menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan oleh kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain. Mereka berusaha keras untuk melakukan apa saja agar dapat dicintai. Tidak sedikit remaja yang terjerumus pergaulan bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh kawan sebayanya. Banyak kaum wanita yg ‘bertabaruj‘ karena mereka ingin mendapat perhatian dari lawan jenisnya. Para politikuspun tidak segan-segan berdusta dan menipu agar dicintai para pengikut dan pendukungnya.
Dalam ‘Manthiq Al-Thayr’ atau Musyawarah para burung, Fariddudin Attar berkisah tetang burung Bulbul yang begitu mencintai mawar sehingga ia berkata, ‘Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin sepenuhnya mawar itu akan selalu mengembangkan putik-putik sarinya karena kecintaannya jua kepadaku. Aku tak bisa hidup jika harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup bila tak dapat lagi memandang rekahan mawar itu.’
Namun kemudian burung Huhud yang menjadi penyampai pesan dari Nabi Sulaiman kepada ratu Bilqis menasehatinya, ‘Ketahuilah kecintaanmu terhadap mawar itu adalah kecintaan yg palsu. Janganlah engkau terpesona dengan keindahan lahiriah. Mawar hanya merekah dimusim semi. Begitu tiba musim gugur maka mawar itu akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan menertawakan cintamu…’
Melalui kisah tersebut Fariddudin ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya kecintaan terhadap mahluk itu adalah bersifat sementara. Karena barometer yang dipakai adalah unsur keindahan sang mahluk. Cinta itu akan sirna tatkala tidak dijumpai lagi keindahan didalamnya.
Memang sering kali kita terperangah dan takjub melihat sesuatu yang indah yang tertangkap oleh kedua mata kita, sehingga membuat mata kita silau yang pada akhirnya justru kita terbuai oleh keindahan itu sendiri…
Tentu tidaklah salah kita belajar mencintai keindahan, karena Sang Pencipta keindahan justru mengajarkan kita untuk mencintai keindahan. ‘Innallaha jamilun yuhibbul jamaala…’ Namun kesalahan terjadi tatkala kita mencintai keindahan melebihi cinta kita kepada Sang Pemilik keindahan. Seharusnya justru keindahan itu sendiri akan membawa kita lebih mencintai Sang Pemberi keindahan.
Semoga apa-apa yg diberikan oleh-NYA yg tak berhingga kepada kita dapat menambah rasa syukur kita yg ternyata sangat berbilang terbatas ini.Dan semoga dalam setiap bait episode kehidupan kita dapat kita gunakan sebagai mengembaraan jiwa kita untuk menggapai cinta-NYA.
Didalam segala kebesaran ada banyak keterbatasan seperti kepekatan awan yang sirna diterpa angin, begitulah alam mengalun harmoninya agar manusia belajar bagaimana merajut cinta…
Nyalakan lilinmu
very good tuk bahan renungan
Apa arti sebuah lilin dalam lembar kehidupan ? Mungkin
ini sebuah hal yang
terlalu dipertanyakan. Sebab, lilin hanya sebuah benda
kecil. Kegunaannya
baru nampak ketika lampu listrik di rumah kita padam.
Tapi, lilin juga
merupakan
cahaya. Dan cahaya merupakan sebentuk materi. Ia
kebalikan dari kegelapan
yang bukan materi. Kegelapan tidak memiliki daya. Ia
adalah keadaan hampa
cahaya. Karena itu meskipun kecil, lilin selalu dapat
mengusir kegelapan.
Allah memisalkan petunjuk-Nya dengan cahaya dan
kesesatan sebagai gelap.
Ini mengisyaratkan bahwa pasukan kegelapan tidak
memiliki sedikitpun daya
di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan
cahaya menghilang. Sepanjang
sejarah, ummat akan mengalami kesesatan ketika roda
"harokah da'wah" berhenti.
Di sini tersirat sebuah kaidah da'wah. Bahwa kegelapan
yang menyelimuti
langit kehidupan kita, sebenarnya dapat diusir dengan
mudah, bila kita mau
menyalakan lilin da'wah kembali. Berhentilah mengutuk
gelap. Ia toh tidak
berwujud dan tiada memiliki daya. Kita tak perlu
memanggil matahari untuk
mengusirnya. Tidak juga bulan.
Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan hanya
mengutuk. Sama seperti tidak
bergunanya sebuah ratapan di depan bencana. Musibah,
jahiliyah, kekalahan
yang sekarang merajalela di seantero jagad Islam, tak
perlu diishlah dengan
kutukan maupun ratapan. Sebab kedua tindakan itu tidak
menunjukan sikap
ijabiyah (positif) dalam menghadapi realita. Adalah
lebih baik menyalakan
sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan.
Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan
kehadiran cahaya yang berimbang
dengan kehadiran kejahiliyahan dalam pentas kehidupan
dunia. Ini mungkin
tidak bisa kita selesaikan dalam sekejap. Tapi sikap
mental imani paling
minimal yang harus terpatri dalam jiwa kita adalah
membuang keinginan untuk
pasrah atau menghindari kenyataan. Kenyataan yang
paling buruk sekalipun,
tidak boleh melebihi besarnya kapasitas jiwa dan iman
kita untuk menghadapinya.
Di sini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah
saatnya kita membuang
kecenderungan meremehkan potensi diri kita. Ketika
kita mempersembahkan
sebuah amal yang sangat kecil, saat itu kita harus
membesarkan jiwa kita
dengan mengharapkan hasil yang memadai. Sebab amal
yang kecil itu, selama
ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal
yang lebih besar. Ibnul
Qoyyim mengatakan "sunnah yang baik akan mengajak
pelakunya melakukan
'saudara-saudara' sunnah itu".
Akhirnya, tutuplah matamu dan nyalakanlah sebuah
lilin, lalu berkatalah:
"Telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebathilan itu
pasti akan sirna".
Friday, January 06, 2006
Jangan sia-siakan bakat kita
tergeletak di tempat tidurnya, sendirian. Ketika ia
terjaga, ia melihat begitu banyak bayangan orang
berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Wajah mereka
tampak menyenangkan namun sedih. Orang tua itu merasa
keheranan. Ia tersenyum lemah dan berbisik, "Oh,
kalian pasti teman-teman dari masa mudaku dulu yang
datang untuk menyampaikan kata perpisahan. Oh, betapa
bahagianya aku."
Sesosok bayangan mendekati dan merengkuh tangan orang
tua itu. Ia menjawab,
"Tentu saja, kami adalah sahabat-sahabat karib yang
telah menemanimu sejak lama. Kami adalah harapan dan
impian yang tak kau wujudkan dalam hidupmu.
Meski kau merasakannya jauh di dalam hati sanubarimu,
kau tak pernah berusaha untuk mengupayakannya. Kami
adalah bakat-bakat unik yang dianugerahkan padamu,
namun tidak pernah kau asah dan kau gunakan. Kami
adalah hadiah yang tak pernah kau temukan. Teman tua,
kami datang bukan untuk menghiburmu, tetapi kami
datang untuk mati bersama-samamu."
(Les Brown, I Believe in You, Compendium, Inc.)
Saudaraku...
Jangan biarkan seluruh bakat yang dianugerahkan Illahi
kepada kita tersia-siakan begitu saja. Kenalilah bakat
kita, dan mari...kita gali dan persembahkan untuk
hidup dan kebahagiaan kehidupan kita semua.
Sebagaimana sabda Rasul SAW, sesungguhnya mukmin yang
kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah.
Thursday, January 05, 2006
Sepuluh perkara yang tidak bermanfaat
Ada sepuluh perkara yang tidak membawa manfaat sama sekali:
Pertama, Ilmu yg tidak diamalkan
Kedua, Amal yg tidak ikhlas
Ketiga, Harta yg tidak dipersembahkan kepada akhirat
Keempat, Hati yg tidak mencintai Allah
Kelima, Badan yg tidak taat dan tidak mengabdi kepada-Nya
Keenam, Kecintaan yg tidak diridhoi Allah dan tidak dalam menjalankan perintah2-Nya
Ketujuh, Waktu yg terbuang yg tidak digunakan untuk mengetahui Allah dan
mendekatkan diri kepada-Nya
Kedelapan, Pemikiran yg berputar-putar pada sesuatu yg tidak bermanfaat
Kesembilan, Pengabdian yg tidak mendekatkan diri kepada-Nya, tidak juga
mendatangkan kemaslahatan bagi dunia
Kesepuluh, Rasa takut dan berharap kepada orang. Padahal nasib orang itu
ditangan Allah. Orang itu sendiri tidak memiliki untuk dirinya bahaya,
manfaat, kematian dan kehidupan kecuali dengan izin Allah.
Lima perkara
ia amalkan atau mengajarkan orang yang mau
mengamalkannya?.
Saya menjawab: “saya ya Rasulullah”, lalu beliau
memegang tanganku kemudian menghitung lima kalimat
yang dimaksudkan:
(1) Takutlah kamu akan perbuatan-perbuatan yang haram,
maka kamu akan menjadi manusia yang paling berbakti,
(2) Relalah terhadap pembagian Allah, maka kamu akan
menjadi manusia yang terkaya,
(3) Berbuat baiklah terhadap tetanggamu, maka kamu
akan menjadi seorang mu’min,
(4) Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai
dirimu sendiri, maka kamu akan menjadi seorang muslim,
(5) Dan Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak
tertawa itu dapat mematikan hati
(HR. Ahmad, Tirmidzi).
Wednesday, January 04, 2006
Bicaralah dengan bahasa hati
Author: unkown
Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati mu.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak
mu, namun juga betapa lembut hati mu dalam menjalani segala sesuatunya.
Kamu tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat.
Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis.
Kamu harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yg tenang jauh di dalam dada mu.
Mulailah melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan mu.
Monday, January 02, 2006
Zuhud
"Zuhud tersimpul dalam dua kalimat dalam Al-Quran,
Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari
tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan
kepadamu, (QS 57:23)
Siapa yang tidak bersedih karena apa yang luput
darinya, dan tidak bersuka ria karena apa yang
dimilikinya, ia adalah orang yang zuhud"
Zuhud bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak meletakan
hati padanya.
Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi
tidak meletakan nilai yang tinggi padanya.
Dan inilah definisi Zuhud dari Rasulullah Saw.,
"Bukanlah zuhud itu mengharamkan yang halal, bukan
pula menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud dalam dunia
itu ialah engkau tidak memandang apa yang ada
ditanganmu itu lebih di andalkan dari apa yang ada
disisi Allah"
( Kanz Al-'Ummal, Hadist ke-6059 )
Wahai Jiwa
Dengan suka atau terpaksa
Musuh t'lah maju ke medan laga
Tidakkah engkau rindukan syurga?
Tenang nian hidupmu sekian lama
Engkau hanya setetes air yang hina
( Abdullah bin Rawahah )
Sunday, January 01, 2006
IBU
sudah sejauh manakah bakti kita terhadap ibu
apakah ianya seluas samudra lautan...
atau setinggi langit di cakrawala...
ah sepertinya tidak....
bakti kita masih sejumput rumput yang kita petik di padang ilalang nan luas...
yang sering kali tertahan oleh kesibukan aktifitas kita
padahal Rosul menyuruh kita mengutamakan berbakti kepadanya...
ummuka....ummuka....ummuku tsumma abuka....
begitu sabdanya tatkala sahabat menayakan hal tersebut.
Saudaraku...
sudahkah kau sapa ibumu hari ini?
sekedar menanyakan kesehatannya
mendengarkan ceritanya
disela-sela aktifitas kesibukan kerjamu
yang senantiasa menyita waktu-waktumu
tolong jangan remehkan hal ini
walau andaikan jarak seluas benua dan samudra memisahkanmu
Ibu...
sebuah kata yang mewakilkan sesosok figur yg kita cintai,
yang melahirkan kita dan membesarkan kita, segenap jiwa dan tenaga
sembilan bulan dilaluinya dengan kesusahan dan keletihan yang amat
ketika mengandung kita dengan diakhiri oleh perjuangan antara hidup
dan mati dengan harapan agar kita lahir dengan selamat.
Ibu...
sebuah kata yang mewakilkan sesosok figur yg kita cintai,
yang merawat kita hingga kita mengerti akan arti kehidupan.
Dengan segala curahan kasihnya yang terus mengalir hingga meresap
kedalam jiwa kita sampai kita seperti saat ini. Beliau tak mengenal lelah
dan tak pernah mengharapkan balasan apapun dari kita.
Ibu...
sebuah kata yang mewakilkan sesosok figur yg kita cintai,
yang senantiasa berjuang demi kebahagian anak-anaknya.
siang malam dipersembahkannya mata air kasih sayang
yang terus mengucur berbalutkan kelembutan hatinya.
Ibu...
sebuah kata yang mewakilkan sesosok figur yg kita cintai,
yg senantiasa mengisi harinya dengan doa agar kita
menjadi anak yang sholeh dan sholehah
dengan sejuta harapan agar kita bahagia di akhirat kelak
Teriring doa tuk bunda tercinta.....





