Thursday, July 31, 2008

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman

KH Rahmat Abdullah

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya,
mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung
dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara
selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin
pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat
manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer,
menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak
dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun – dengan karakternya
sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan
dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan
penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.
Kini – di bulan ini – ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’.
Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan
tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah
momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan
sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat
orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya.
Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh
mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’ Shiyami
Marhaban ya Syahra Ramadlan
Marhaban Syahra’l Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban
Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang
bersahaja, saat ia bertanya: "Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita,
sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya
harus berseru kepada-Nya?" Sebagian kita telah begitu ‘canggih’
memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban
orang bertuhan’ telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang
Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat
mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat
menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap,
syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan
persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan
pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan
peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa
tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa
keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di
stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang
seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual
tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara
tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah
puasa. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…" (Qs. 2:185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban ini?
Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik,
padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka
menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi
nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke
bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera,
tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka?
Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi
kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau
anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada
bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi
kekosongan hati ini.

Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi
rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit?
Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati
tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara
sesama saudara saling tidak peduli?
Nuzul Qur-an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur-an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk
untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya
bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan
larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan
menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang
menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu
kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar
itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalnahu
(kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata
tanazzalu’l Ma-laikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah
Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah
malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak
menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan
shalihnya, mu-nafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya?
Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di
kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam
qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga,
maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya
Alqur-an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa
menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang
Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan,
seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena
selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan
minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir
dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya
kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah
ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!
Alqur-an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur-an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman
dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam
itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alquran
membentuk frame berfikir. Alqur-an mainstream perjuangan.
Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian
dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya
menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan
kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis,
akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan
dan menghemat energi ummat.

Betapa da’wah Alqur-an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan
tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman,
bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu
menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah
ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan
jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur-annya.
Bila me-nyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang
lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali,
‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani
membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil
dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan
dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin
Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur
lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan
setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal
lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah
da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau
kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti
bahwa bayi yang dilahirkan di tengah badai takkan gentar menghadapi
deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan
percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya
air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.

Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh
sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang
melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin
bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami
ajarannya sendiri? "Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi" (Yang tak punya
apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan
mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan
Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi
betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak
alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke
maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits,
mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun
hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius

Buah Mengimani Hari Akhir

Oleh: KH Rahmat Abdullah

Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang,
baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait
dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau
untuk meninggalkan sesuatu. ''... jika berselisih tentang sesuatu,
hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya,
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir...
(Qs 4:59).
kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65).
Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak
sosial, tetapi juga moral-spiritual.

Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para
sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai
di akhirat nanti. Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang
tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan
Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya.

Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan
Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).
Demikianlah para rasul dan para pengikut tidak merasakan kepedihan
dalam perjuangan. Kalau wajah seorang Yusuf AS, remaja yang
tampan, telah membuat perempuan-perempuan di Mesir mengiris-iris
jari-jari mereka tanpa sadar, betapa keindahan surga dan kepastian
janji Allah telah membuat para pejuang di jalan-Nya sama sekali
tidak merasa rugi, kalah atau sia-sia. Sebaliknya, mereka yang
menzalimi diri sendiri atau sesama harus segera ingat bahwa ada
batas usia bagi kehidupan dan ada persidangan yang adil.
Sesudah itu kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.

Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab.
Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ''... pagi dan
petang bertasbih di rumah-rumah Allah'' adalah orang-orang yang
tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari
mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat,
''Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati
dan penglihatan... (Qs 24:37)

Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan
keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian,
kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman
kepada Allah dan hari akhir.
'Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah
adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
menegakkan shalat, dan menunaikan zakat serta tidak takut kepada
siapa pun selain Allah ....'' (QS 9:18).
Penyiksaan terhadap keluarga Yasir RA sangat brutal, khususnya
pembunuhan Sumayah, istri Yasir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan
selain berdoa dan berharap. Keluarlah kata bersayap Rasulullah,
''Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat kalian berjumpa (esok)
di surga.''

Sangat menyentuh dan membuat gairah takwa saat membaca atau
mendengar ayat-ayat Hari Akhir, ''Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-
mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh
Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah
orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu
malam. Di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).
Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta
dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.'' (Addzariyat: 14-19).


DO'A

oleh K.H. Rahmat Abdullah

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang
tua
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran
terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan
kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada
kami
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala
kasih"

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang
menenggelamkan dunia

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang
marak menyala

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan
laut yang mengancam nyawa

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan
oleh kafir durjana

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu
wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik
khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam,
dan perut ikan

Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan
dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-
Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan
yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal
usaha kami sendiri

Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu
Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang
memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis
dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati,
ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua
kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan
kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami
da'i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai
kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

Wednesday, July 30, 2008

Militansi

Oleh: KH Rahmat Abdullah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ba’da tahmid wa shalawat.
Ikhwah rahimakumullah,

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 :
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah ..”.
Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya
yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat
melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan
quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.
Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang
yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai,
berleha-leha dan berangan-angan.

Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-
cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-
sungguhan) dan kekuatan tekad. Namun kebatilan pun dibela dengan
sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali
bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan
baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat
yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam
ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan
Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan
memperoleh ganjaran yang hebat.

Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-
sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini
tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah
dan pengorbanan yang sedikit. Ali sempat mengeluh ketika
melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara
para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku
seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-
ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka
dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya,
tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan
kesan yang mendalam: “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada
luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan
bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah
kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh
kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku
akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.
(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam
ayat 12: “Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah).
Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya
dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak
pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa,
Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi,
semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa
bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid
pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita,
semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal
mereka. Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh
jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan
di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal
sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw
dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun.
Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka
seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan
sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi
kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.
Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan
semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam
QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan
mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak
kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh,
besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali
kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat
kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka
atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu
kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa
jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para
Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan
adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.
Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orang
tuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena
merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes
keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada
padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta.
Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki
azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang
berilmu, kaya dan seterusnya. Demikian pula dalam kaitannya
dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah.
Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan
memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan
kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat
bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan
hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil
membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan
Fir’aun. Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui
cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan
para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin
Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta
bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu
kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta
dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya
mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan
kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur
kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-
baiknya.

Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat
mereka terjerumus kepada kejahiliyahan. Sekali lagi marilah kita
menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah.
Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan
kaumnya.
Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 :
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku,
ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di
antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan
diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya
kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.
“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah
ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang
(karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang
yang merugi”.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada
orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali
tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu.
Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.
“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada
Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah
mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu
memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman”.
“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan
memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya,
karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah
kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku
sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan
orang-orang yang fasiq itu”. “Allah berfirman: “(Jika demikian),
maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama
empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar
kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu
bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal
dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak l
ingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh
oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika
mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11,
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum,
sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.
Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka,
seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah
terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan
pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas,
Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as
sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan
mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62,
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah
pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan
tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul;
sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi
petunjuk kepadaku”. Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan
mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah
pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan
karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang
beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung
kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan
kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu
sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh
merupakan opium, candu yang berbahaya.

Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-
sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai
dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan
nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah. Seandainya
mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan
Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan
yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina
dengan selamat. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam
QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam”
(Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan
meneguhkan pendirianmu).

Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya
tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala
kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang
sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh
merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah
mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka
selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa
pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi
mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka
dalam kondisi sedang dihukum. Tetapi tetap saja kedegilan mereka
tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka
mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu
jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka
membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam
bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata:
“Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu).
Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada
Tuhan kita”. Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di
masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah
ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid
yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka,
sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi
beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang
sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”.
Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau
menjawab: “Siapa lagi?”. Kebodohan dalam meneladani Rasulullah
juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai
warasatul anbiya (pewaris nabi).

Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat.
Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan
dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi
didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan,
pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan
merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang
notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan
adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah,
Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada
dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing
sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan
lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya
memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia
menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi,
didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am tidak mau berpihak dan
menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu
dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki
wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang
memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya
cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya.
Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah
bisa mengapresiasi cincin berlian.

Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk
memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi
telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan
telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena
kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya.
Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia
tenggelam dan mati. Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia
bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan
sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara
daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang
benar di penjara, sementara yang salah malah bebas. Ada satu hal
lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita
yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat
Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena
terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan
manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut.

wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak
merasakan sakitnya teriris-iris. Hal yang demikian bisa pula terjadi
pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para
nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya
akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan
perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan
segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i.
Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan
sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq,
padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga
dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang
kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal
dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan
seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa
berjuang di jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bis shawab.

Cermin Diri

Cermin Diri
KH Rahmat Abdullah

Orang-orang bijak pernah berpesan "Ma halaka ‘amru-un arafa Qadra nafsihi" (Tak akan celaka orang yang kenal harkat dirinya). Telah banyak orang binasa karena terlalu tinggi memasang harga diatas realita dirinya. Banyak yang lenyap dari peredaran karena terlalu murah menghargai dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau perasaan tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah bisa menyadari dimana posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang mengancam ummatnya.

Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau pemerintahan kerap terjebak dalam waham-
waham kekuasaan ; berbahasa dan bertindak dengan pendekatan kekuasaan. Mereka yang ‘berkuasa’ merasa percaya diri, hanya karena secara de jure punya otoritas atas wilayah territorial, wilayah problematika dan wilayah sumber daya manusia. Bahwa wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan begitu saja oleh senjata, uang dan kedudukan, kerap luput dari renungan. Entah karena inikah ketika ALLAH mengaitkan keselamatan dunia dengan keberadaan Ulu Baqiyah (orang-orang yang potensial dipertahankan keberadaannya) dan mengemban misi ‘mencegah kerusakan di muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang (berbakat) zalim terus saja mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan karenanya
mereka menjadi durhaka (Qs. 10;116).

Ghurur Hal terberat yang kau hadapi bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sekeras apapun hati mereka, kekuatan Hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan idzin-Nya. Bila itu pun tidak, engkau tak akan dipersalahkan, karena tataranmu dakwah dan tataran-Nya hidayah. Cobaan berat, justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Engkau nikmati benar sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu. Malang nasibmu wahai orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu. Mentalitas Qarun tersimpul dalam satu kalimat "Hadza Li"
(Semua ini karyaku, karena aku, milikku).

Ketika arogansi mendominasi hubungan ‘yang adi daya’ dengan ‘yang tak berdaya’, maka yang pertama harus membayar ongkos yang sangat mahal ; dari antipati sampai kutukan mereka yang tak berdaya. Berat menyadarkan orang yang otaknya berjelaga, egois dan hanya melihat apa yang mereka anggap hak, tanpa kesadaran seimbang akan kewajiban. Kepada mereka Imam Syafii menegaskan : Bila engkau mendekatiku, mendekat pula cintaku Jika engkau menjauh, aku kan lebih jauh darimu Dalam hidup masing-masing kita Tak bergantung dengan saudara Dan
kita lebih tidak bergantung lagi bila tamat usia Orang yang mentah fikiran selalu mengandalkan sanjungan kosong, tak berbasis pada prestasi, atau mungkin mereka berprestasi, namun menganggap itu sebagai hal besar yang memungkinkan mereka memonopoli kebajikan. "Mereka membangkit-bangkit keislaman mereka (sebagai jasa) kepadamu. Katakan : ‘Janganlah kalian bangkit-bangkitkan kepadaku keislamanmu, akan tetapi ALLAH lah yang telah memberi
karunia besar dengan membimbing kalian kepada Iman…" (Qs. 49:17)

Sebelum bubarnya Uni Sovyet, ada dua spesies yang sangat dibenci rakyat ;
1. Partai Komunis,
2. etnik Rus.
Yang pertama dibenci karena selalu ingin campur dalam segala urusan orang. Dari urusan menteri, tentara, pegawai negeri, isteri pegawai, anak pegawai sampai mimpi-mimpi rakyat. Yang kedua tak tahu diri sebagai mayoritas, bagaikan truk besar yang berlari kencang, anginnya mementalkan kendaraan-kendaraan kecil di tepi jalan.

Cermati bagaimana karakter kekuasaan itu tumbuh. Banyak orang yang berkuasa mengabaikan pengenalan wilayah-wilayah kekuasaan dengan segala karakternya.
Pemerintah yang mempunyai otoritas memulainya dengan 3 wilayah :
1. Wilayah ardliyah (teritorial),
2. Wilayah insaniyah (kemanusiaan, SDM, rakyat),
3. Wilayah masailiyah (problematika).
Dengan ketiga otoritas ini mereka dapat menggusur tanah rakyat, membagi HPH, menaikkan pajak, tarif, UMR, memainkan money politik, mencetak uang untuk kepentingan partai, membunuh karakter lawan politik dan memenjarakan mereka. Berapa lama mereka dapat berkuasa dengan tiga pilar ini ?
Entahlah, yang jelas telah bertumbangan begitu banyak rezim dengan begitu banyak dana, senjata dan tentara. Mereka melupakan 2 wilayah yang sebenarnya pagi-pagi harus sudah dikuasai, bahkan sebelum mereka menguasai wilayah-wilayah lainnya. Jauh sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, rumah-rumah disana sudah menaungi begitu banyak muslim.

Pada penghujung era Makkiyah, baiah Aqabah II telah menyuratkan pesan yang begitu kuat. "Kami siap melindungi Rasulu’Llah SAW, sebagaimana kami melindungi anak-anak dan isteri-isteri kami". Madinah telah dikukuhkan menjadi bumi Islam sebelum para Muhajir berangkat kesana. Rasulullah sudah ditunggu dengan segala kerinduan, sebelum mereka melihat wajahnya. Da’wah Qur-an telah mengakar dalam wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah mereka, dua wilayah yang pada saatnya melahirkan energi besar, mengalahkan semua penguasa yang hanya berpuas diri dengan tiga wilayah yang serba refleks, fenomenal dan efektif untuk
waktu singkat.

Wahan Tak kalah beratnya beban mental orang yang sama sekali tak mampu memberikan kontribusi. Ia sendiri tak mampu membantu dirinya sendiri, bahkan dengan sekedar percaya dan menyadari bahwa dirinya dapat berperan. Paradigma "La syai-a indi" (Saya tak punya apa-apa), telah banyak merugikan ummat. Dari sini orang berbuat, dari kontra produktif sampai amoral. Ia tak merasa ada kaitan sepak-terjangnya dengan lingkungannya. Ia mampu melumuri citranya – sama seperti mereka yang over pede – tanpa cemas hal itu akan berdampak luas, bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Mereka banyak memubadzirkan umur dan hidup tanpa program.

Rendah diri dan karenanya tak jarang merawat hasad, dengki dan khianat. Mereka dapat tampil dalam figur seorang alim, publik figur dan apa saja yang ‘mulia’, namun mengabaikan berkah amal jama’i, karena merasa ‘tak sebodoh’ komunitasnya atau lupa bahwa dirinya (dapat menjadi) besar di tengah mereka. Terkadang batas antara orang yang berlebihan percaya diri dengan yang sangat tak percaya diri, begitu sulit dibedakan. Kritik pedas bisa datang dari mereka yang gagal melaksanakan apa yang dikritiknya. Atau yang tak cukup punya keberanian berargumentasi karena kurang pedenya.

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya menopang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang ALLAH amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja dan lahan kerja Da’wah tak pernah tutup.

Dimana posisimu ? Mungkin beberapa kalangan akan keberatan bila kukatakan engkau telah menyulam halaman da’wah di negeri ini dengan benang emas dan menyemaikan benih-benih berkah di lahan tandus, sehingga berubah menjadi ladang-ladang subur masa depan. Pohon keadilan, buah kemakmuran, bunga kesetaraan, ranah kesetiaan dan rumah kasih sayang. Bukan tujuanmu menciptakan iri. Ada yang begitu geram ketika hamba-hamba ALLAH perempuan keluar dari setiap gang dan kampus dengan jilbab mereka yang anggun dan IP mereka yang cemerleng. 20 tahun yang lalu harus keluar dari sekolah negeri yang dibangun dengan uang pajak mereka sendiri. Ya, kebangkitan memang bukan hanya sisi ini, namun banyak kebaikan tersimpulkan pada aspek ini. Intinya ; Perubahan.

Dan hari ini puncak gunung es itu telah memperlihatkan dinamika besar kebangkitan, shahwah yang penuh berkah. Tauhid adalah sistem konstruksi terpadu yang meletakkan segalanya tepat pada tempat, peran dan kepatutannya. Intelektual adalah sistem pengapianmu yang tak pernah padam. Kader-kader yang selalu ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan- medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan. Yang tak bergaransi ialah kondisi jalan, bahkan sekali pun dengan rute yang jelas dan lurus, kendaraan yang teruji, kru yang jujur, pakar dan sabar.

Dari semua setting ini, tentukanlah dimana posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan.

Kedunguan Kasta vs Komitmen Perjuangan

Kedunguan Kasta vs Komitmen Perjuangan
KH Rahmat Abdullah

Pada suatu hari lewatlah seseorang di depan Rasulullah SAW. Beliau
bertanya kepada seseorang disampingnya: "Bagaimana pendapatmu
tentang orang ini?" Orang itu menjawab: "Ia lelaki golongan terhormat.
Demi ALLAH, seandainya meminang pastilah diterima dan bila
memberi pembelaan pasti dikabulkan". Lalu Rasulullah SAW berdiam.
Kemudian melintaslah seseorang. Rasulullah bertanya kepada orang
yang disampingnya tadi: "Bagaimana pandanganmu tentang orang ini?"
Ia menjawab: "Ia muslim yang faqir. Bila meminang pantas ditolak,
bila memberi pembelaan takkan didengar pembelaannya dan bila
berbicara takkan didengar ucapannya". Rasulullah SAW bersabda :
"Sepenuh bumi ia lebih baik daripada orang tadi (yang pertama)"
(HSR Muslim).

Ketika Da’wah ini muncul dan eksis dalam waktu yang sangat singkat,
ia telah menyatakan jatidirinya dengan jelas. Ia adalah kemenangan
bagi siapa saja yang mau berjuang, tidak peduli anak siapa dan berapa
kekayaan bapaknya. Ia tidak peduli penolakan Bani Israil paska nabi
Musa AS ketika nabi mereka menyatakan bahwa Thalut yang miskin
telah dipilih ALLAH untuk menjadi pemimpin mereka (Qs.2:247).

Ia tidak juga meman-jakan ‘kesombongan intelektualisme’ kaum
nabi Nuh AS yang mencap Nuh hanya diikuti oleh ‘orang-orang
rendah, yang dangkal fikiran’ (aradziluna. badia’r ra’yi, tidak kritis,
Qs. 11:27). Bahkan ia pun tak sungkan-sungkan menegur keras
nabinya karena ‘logika prioritas’ yang dibangunnya menyebabkan
Abdullah bin Ummi Maktum ‘nyaris tertinggal’.

Alqur-an menyebutkan "Ia telah bermasam muka dan berpaling,
ketika datang kepadanya hamba yang buta……" (Qs. 80:1-2).
Siapa yang tak kenal keutamaan keempat khalifah dan beberapa
tokoh legendaris di kalangan para sahabat? Namun, carilah dimana
nama mereka terpampang dan bukan hanya sifat, selain Zaid,
RA (Qs.33:37) ? ‘Kelas’ inilah yang diakui sebagai kekuatan yang
dengan mereka "kalian diberi rezki dan dimenangkan".
(HSR Bukhari)


Pungguk Mengaku Duduki Bulan Demi kepentingan mereka, bahkan
Dzulqarnain mengoreksi salah kaprah yang merugikan mereka sendiri.
"… mereka berkata: "Wahai Dzulqarnain, maukah Engkau kami beri
upeti, agar mau membangunkan tembok (benteng) yang dapat
melindungi kami dari (serangan) mereka?" Ia menjawab; "Kedudukan
yang ALLAH telah berikan kepadaku itu lebih baik. Cukuplah kalian
membantuku dengan kekuatan, aku bangunkan benteng yang kuat,
memisahkan antara kamu dan mereka" (Qs.18:94-95).

Tanpa pembinaan dan penataan yang benar kelas ini akan menjadi
kekuatan destruktif yang dikendalikan tangan-tangan berdarah.
Dendam kemiskinan kerap membuat orang melahap fatamorgana.
Mereka melahap tuduhan bahwa masyarakat tak peduli kepada
derita mereka, lalu menyambut lambaian para penipu yang akan
menunggangi mereka. Kalau para kader hanya mencemooh dari
jauh kelicikan para tengkulak yang memperdagangkan kemiskinan
dan melahap begitu banyak hak masyarakat miskin, tetaplah roda
kemenangan berpihak kepada angkara murka.

Banyak orang kaya baru (OKB) berlomba-lomba memamerkan
kekayaan mereka dan politisi dari partai-partai baru yang mencaci-
maki partai tiran dan korup sebelumnya. Tetapi ajaib, mereka
menjadi begitu norak, kemaruk dan lebih ‘ndeso’ dari para pendahulu..

Orang kaya merambat tak perlu waktu adaptasi. Orang kaya mendadak
benar-benar perlu belajar membawa diri. Tetapi orang kaya turunan dan
orang kaya mendadak sama-sama perlu memahami dan mengingat
kembali kemiskinan, betapa pun pahit.

Kader yang menyikapi jabatan yang diterimanya lebih sebagai amanah
dari pada kehormatan, akan dengan cepat belajar menyesuaikan diri
dan memahahami karakteristik tugas dan tantangannya. Bawahan yang
lebih pandai, diakuinya dan didorongnya untuk cepat menggapai posisi
yang lebih sesuai. Mereka berendah hati, karena memang tak takut
jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan senior
perpeloncoan yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering
menampakkan gejala ketakutan ‘disaingi’.

Perasaan berkasta tinggi. Melecehkan orang yang mereka anggap
berkasta lebih rendah. Menelikung siapa saja yang di luar koneksi.
Mengkoptasi semua demi keharuman citra diri. Memecahkan masalah
dengan menyalahkan orang lain. Melapor segalanya beres tanpa ada
yang dibereskan. Hal paling berat bagi kader yang berorientasi
kekuasaan atau dunia ialah usaha untuk mendengarkan dan
memahami. Mereka lebih suka didengar, difahami dan dimaklumi.

Tak ada kemajuan dalam prestasi kecuali seni membuat-buat alasan.
Karena otak tak bekerja kerap, mereka lebih suka menggunakan lutut.
Muncullah kader-kader ‘gagah’ dengan mengimitasi tampilan serdadu,
bukan meningkatkan etos, disiplin dan kehormatan jundi sejati.
"Army Look" adalah kebanggaan mereka yang ingin diterima tanpa
harus mengajukan dalil, yang penting orang takut dan nurut.

Kader Sejati Pepatah lama menyadarkan kita betapa pentingnya
mendengar. "Ta’allam husna’l Istima’ kama tata’allam husna’l Hadits"
(Belajarlah cakap mendengar sebagaimana engkau belajar untuk
pandai bercakap).

Para ‘penjaja’ Fasad telah begitu lihai menggeser cita-rasa masyarakat.
Mereka membentuk identitas ABG dengan segala asesori termasuk
bahasa. Mereka bentuk mental attitudenya sendiri dan bahasa gaulnya
sendiri. Seluruh sasaran bahasa adalah penjungkirbalikan kemapanan.
Dan agama adalah bagian yang dianggap kemapanan.
Bahasa fasad lebih fasih dari pada bahasa Islah. Ada bahasa gaul untuk
remaja, ada bahasa gaul untuk tua-bangka dan ada bahasa gaul untuk
preman, morfinis dan kriminal lainnya. "’Ala Man Taqra’ Zabura ?!"
(Kepada siapa Anda Bacakan Zabur?), adalah sindiran tajam bagi da’i
yang asyik menyusun kata dan menikmatinya sendiri, tanpa peduli
apakah komunikannya dapat mengerti.

Dalam pertarungan memperebutkan pendukung, ada kekuatan
berhasil meyakinkan calon pendukungnya dengan idiom-idiom
tipuan yang memukau rakyat. Ada yang dengan jujur meneriakkan
visi dan misi mereka, tetapi tidak cukup sampai ke telinga batin
mereka. Banyak kondisi menipu (Zhuruf Muzayyafah), yang kerap
membuahkan kekecewaan.
Sesudah iman, ikhlas dan pengenalan konsep serta medan, kemampuan
transformasi fikrah dan menangkap gejolak arus bawah mutlak perlu
dipertajam. Pesan-pesan penyampaian dengan berbagai pendekatan,
patut dibiasakan;
1. Khathibu’n Nas ala Qadri uqulihim
(Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka)
2. Khathibu’n Nas bilughati qaumihim
(Serulah masyarakat dengan bahasa kaum mereka),
3. Anzilu’n Nas manazilahum
(Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka).

Karena da’wah bukanlah obral candu, perlu diuji ulang, cukup
tajamkah telinga ini mendengar krucuk perut yang hanya berisi angin.
Cukup sensitifkah mata memandang seorang akh yang membisu dalam
kelaparannya yang sangat dan isterinya yang gemetar menanti rizki
yang datang dengan sabar. Masihkah ada waktu muhasabah sebelum
tidur, menyusuri wajah demi wajah, adakah yang belum tersantuni.
Atau menelisik kader yang hanya diberi sanksi, tanpa seorang pun
tahu, tiga hari ini ia tak punya tenaga karena sama sekali tak dapat
makanan.

Ini mozaik kehidupan kita yang harus ditata menjadi serasi dan
harmoni. Malang nasib dia yang mati rasa, nyinyir menyindir
kesengsaraan saudara sebagai buah kemalasan, seraya menghabiskan
bertalam-talam makanan yang tak dapat lagi memenuhi rongga
perutnya.Bagaimana ia dapat memahami gelombang besar rakyat
jelata yang bagai singa terluka, menanti kapan saatnya menerkam
dengan penuh murka.



Cahaya Di Wajah Ummat

Cahaya Di Wajah Ummat
Oleh KH. Rahmat Abdullah

Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).
Makna tarbiah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ra-tus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang ditampilkan untuk ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disembunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan ada lagi kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempenga-ruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawas-an ilmu, kawasan akhlak, kawasan taqwa, kawasan al-haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader PK, dimanapun dia berada terus menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da’wah ini, tumbuh dari seorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna, "Antum ruhun jadidah tarsi fijasadil ummah". Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk mera-sakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana-pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah senantiasa ber-samanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senanti-asa.

Kehebatan Namrud bagi Nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. ALLAH bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps dengannya dalam menu-naikan tugas pengabdian kepada ALLAH. Alih-alih dari menghanguskannya, justeru ma-lah menjadi "bardan wa salaman" (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang Da’wah sesuai dengan janji-Nya, In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum (Jika kamu meno-long Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkah kamu)

Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat Junud Da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

Disanalah kita mentarbiah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alqur-an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.