Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bermain-main bersama teman-temanmu
diiringi canda dan tawamu yang riang Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bersekolah
menggantungkan asamu setinggi langit
meneguk setiap ilmu yang diberikan walau seluas samudra
Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bercerita
tentang indahnya kehidupan
bertemankan senyum mungilmu yang riang
Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bersenandung riang
berkumpul bersama orang-orang yang kau cinta
yang senantiasa memberikan cinta dan kasih sayangnya padamu
dalam masa pertumbuhan umurmu yang belia
:kedua orang tuamu, abang-abang serta kakak-kakakmu, juga sahabat-sahabatmu
Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia?
Kepada Muthia yg hidup sebatang kara dalam kesendiriannya
sementara keluarganya menjadi korban ganasnya konflik
berbalutkan nafsu-nafsu binatang jalang
dan rumah tempat ia bernaung dari teriknya matahari
dan dinginnya malam serta basahnya air hujan
telah musnah terbakar bersama tubuh-tubuh orang yang dicintainya.
Sementara sekolah tempatnya menimba ilmu tak luput tinggal
puing-puing berserakan.
Kepada Muthia yang hidup sebatang kara dalam kesendiriannya
sementara airmatanya telah kering meniggalkan guratan keras pada wajahnya
yang menorehkan duka kelam dalam catatan sejarah kehidupannya
Kepada Muthia yang hidup sebatang kara
yang kini bertemankan anak-anak sebaya yang bernasib sama
yang tlah lelah oleh simbahan darah dan airmata
yang tak mampu lagi tuk bermimpi apalagi bercita-cita
Ridho Maret 2004
:kini kau tidak sendirian karena tlah ditemani oleh anak-anak korban tsunami
ps: terinspirasi ketika berkunjung ke pesantren milik iparku Tu Bulqaini Tanjongan yang menampung anak-anak korban konflik dan kini tsunami di Luengbata, Banda Aceh