Tuesday, December 27, 2005

Melodi kehidupan dalam rumah tangga

Berumah tangga tidak selamanya akan berjalan mulus,
atau selalu indah seperti yang kita harapkan.
Ianya laksana perahu yang berlayar di samudra kehidupan,
kadang tenang namun kadangkala akan menjumpai ombak-ombak
kehidupan yang kurang bersahabat.

Sebagaimana Abu Saif tuliskan dalam bait-bait syairnya:
Tak adil indahnya bila tanpa warna.
Merah dan putih
Putih dan hitam
Pahit dan manis
Silih berganti siap mendera nanti

Begitulah kehidupan, ia akan senantiasa memainkan melodinya
yang kadang berirama halus dan kadangpula keras. Tidak selamanya
manis, kadang pula harus mengecap pahitnya.
Namun disitulah seni berumah tangga, ianya harus dapat mengikuti
irama kehidupan, apapun melodi yang dimainkannya.
Indahnya adalah tidak hanya sendiri tapi berdua bersama sang
kekasih hati, pasangan hidup kita.

dalam bait-bait syair berikutnya:
Tonggak yang tegak semoga tak bergeser lagi.
Ikatan sejati
Bila setia pada janji

Allah menjadikan pasangan hidup bagi manusia agar saling bahu
membahu dalam menanggung beban dan amanah hidup, saling
berkomunikasi dalam menyelesaikan setiap permasalahan dan saling
menumpahkan asa dan segumpal perasaan yang membebani agar
semuanya terasa lebih ringan dalam memikul beban itu, lebih nikmat
merasakan segala permasalahan dan lebih indah dalam memaknai
hidup yang penuh onak dan duri.

Dengan merasakan dan memikulnya berdua, insya allah semua akan
terasa manis selama biduk rumah tangga tetap dijalankan
dalam alurnya yang islami tuk menggapai ridho Illahi.

Sebagaimana firman-Nya.
"Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya
pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung
padanya. Dan Allah menjadikan di antara kalian perasaan tenteram
dan kasih sayang. Pada yang demikian ada tanda-tanda kekuasaan
Allah bagi kaum yang berfikir."

Allah pun memberikan jalan yang teramat mudah bagi manusia tuk
mendapatkan rahmat-Nya. Dengan rahmat itu Allah memberikan
kekuatan memecahkan setiap kesulitan, menemukan kemudahan
dalam meniti jalan-Nya. Salah satu cara tuk menuai rahmat-Nya itu
adalah dengan memandang istri kita dengan perasaan cinta,
kasih sayang dan kemesraan.

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW, dari Abu Sa'id Al Khudry ra:
"Sesungguhnya jika seorang laki-laki memandang istrinya dan
istri memandangnya, maka Allah memandang keduannya dengan
pandangan rahmat. Jika dia memegang telapak tangan istrinya,
maka dosa keduanya berjatuhan dari sela-sela jari mereka"

Subhanallah...
Begitu maha pemurahnya Allah, dengan memandang pasangan hidup
kita, kita sudah mendapatkan rahmat-Nya, memegang telapak
tangannya maka dosa kita pun berguguran...

Saudaraku yang sudah menikah...
Sudahkah kau pandang pasanganmu hari ini dengan tatapan cinta,
kasih sayang dan kemesraan lalu kau pegang dan remas jemarinya
dengan lembut diiringi senyuman?
berikanlah ia energi cintamu yang mengalirkan kesegaran dalam
taman hatinya... sehingga bunga-bunganya akan senantiasa
merekahkan kelopaknya dengan rona merah jambu...

ahhh... betapa indahnya hidup ini bila kita sudah menikah...
Saudaraku yang belum menikah... tidakkah kau merasa iri?
Apakah kau tetap biarkan perahumu berjalan hampa diombang-
ambing oleh ombak kehidupan tanpa ada yg menemani disisi,
yang selalu mencurahkan cintanya yg berbalutkan permadani
kasih sayang?

dalam bait-bait syair berkutnya abu Saif mengejekmu:
Patut sudah membangun sarang
Mencari pasangan, walau jauh di seberang.
Menggampit tangan,
Bersama tempati malam.

Bergenggam haru menyebar
Seluas harapan terbentang
Seindah impian terpampang
Sejauh jarak, langkah berkehendak.

Indah penuh senyum, menebarkan
Memenuhi udara pagi yang sejuk.
Canda renyah, menembus malam yang sepi,
Penat yang mendera, lepas saat kau sapa

Wallahu a'lam
dari saudaramu yang mencintaimu