Wednesday, August 18, 2004

Rindu

Kata yang dulunya jarang hadir dalam memori ingatanku
namun kenapa kini ia selalu menggelayuti pikiranku
jejak-jejaknya senantiasa mengembara dalam sunyi
tak lelah menapaki setiap hari-hari yang kulewati

kekuatan energi cintakah yang telah melahirkannya kembali
sehingga ku tak kuasa menghalaunya pergi
walau bertemankan kesibukan rutinitas tiap hari
pagi sampai sore berulang kali

namun ia tetap saja menyusup pasti
membasahi setiap relung-relung hati
mengalir bagai air bah
melesat bagai sebatang panah

ahh...aku harus berkata jujur
tak bisa membohongi nurani lagi
karena tak ada obat yang manjur
kecuali bertemu dengannya lagi

istriku...
aku rindu padamu.....
Love Letter

Monday, August 16, 2004

Muthia

Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bermain-main bersama teman-temanmu
diiringi canda dan tawamu yang riang

Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bersekolah
menggantungkan asamu setinggi langit
meneguk setiap ilmu yang diberikan walau seluas samudra

Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bercerita
tentang indahnya kehidupan
bertemankan senyum mungilmu yang riang

Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia
tidakkah kau ingin bersenandung riang
berkumpul bersama orang-orang yang kau cinta
yang senantiasa memberikan cinta dan kasih sayangnya padamu
dalam masa pertumbuhan umurmu yang belia
:kedua orang tuamu, abang-abang serta kakak-kakakmu, juga sahabat-sahabatmu

Muthia,
kenapa kau bersedih sayang
sementara umurmu masih belia?

Kepada Muthia yg hidup sebatang kara dalam kesendiriannya
sementara keluarganya menjadi korban ganasnya konflik
berbalutkan nafsu-nafsu binatang jalang
dan rumah tempat ia bernaung dari teriknya matahari
dan dinginnya malam serta basahnya air hujan
telah musnah terbakar bersama tubuh-tubuh orang yang dicintainya.
Sementara sekolah tempatnya menimba ilmu tak luput tinggal
puing-puing berserakan.

Kepada Muthia yang hidup sebatang kara dalam kesendiriannya
sementara airmatanya telah kering meniggalkan guratan keras pada wajahnya
yang menorehkan duka kelam dalam catatan sejarah kehidupannya

Kepada Muthia yang hidup sebatang kara
yang kini bertemankan anak-anak sebaya yang bernasib sama
yang tlah lelah oleh simbahan darah dan airmata
yang tak mampu lagi tuk bermimpi apalagi bercita-cita

Ridho Maret 2004

:kini kau tidak sendirian karena tlah ditemani oleh anak-anak korban tsunami

ps: terinspirasi ketika berkunjung ke pesantren milik iparku Tu Bulqaini Tanjongan yang menampung anak-anak korban konflik dan kini tsunami di Luengbata, Banda Aceh

Wednesday, June 16, 2004

Jika hanya Allah tujuanmu

Jika hanya Allah tujuanmu

Jika hanya Allah yang kamu tuju,
maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu,
serta segala keutamaan akan menghampirimu.
Kemuliaan sifatnya mengikut.
Artinya jika kamu menuju Allah,
kemuliaan akan mengikutimu.
Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan,
Allah akan meninggalkanmu.
Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda
untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah,
maka Allah dan kemulian-Nya akan pergi meninggalkanmu.

(Ibnul Qayyim, Al-Fawaid)

Di Bawah Naungan Cinta Yang Tak Berbatas

Di Bawah Naungan Cinta Yang Tak Berbatas



Wahai, jika engkau memiliki cinta
dan telah terdorong dengan kerinduan
maka anggaplah jarak perjalanan itu dekat
karena kecintaan dan kerelaanmu pada penyeru
ketika mereka menyeru...!
Maka katakanlah, kami penuhi panggilanmu
seribu kali dengan sempurna
Janganlah berpaling dari mereka
hanya karena melihat gerimis
Jika engkau melihatnya,
maka ia akan kembali menjadi penghalang
Jangan menunggu adanya teman dalam perjalanan
tinggalkanlah ia...!
Cukuplah bagimu kerinduan sebagai penghantar
Ambillah bekal dari mereka dan berjalanlah
di atas lintasan petunjuk dan kesederhanaan
niscaya engkau akan sampai
Ambillah secercah cahaya dari mereka
lalu berjalanlah dengannya...!
Cahaya mereka yang menyuluhimu
bukan sesuatu yang menyala-nyala
Katakanlah, sahabatku wahai jiwa
Bersabarlah untuk sesaat
Pada saat pertemuan, keletihan itu akan hilang
Keletihan hanyalah sesaat, lalu berakhir
Dan yang bersedih menjadi sangat bergembira.

(Madarijus Salikin, 3\7-8)

Perjuangan

perjuangan
hanyalah kata-kata tak bersuara
berlagukan keuletan
berdendangkan kegigihan

perjuangan
mangalirkan suara rintihan
desah kesedihan
derau kesunyian

perjuangan
kata-kata yang tak jua kunjung sirna
menapaki setiap hurufnya
dengan nafas ketabahan

perjuangan
jalannya mencurah keringat
memeras kerinduan
melantunkan harmoni kehidupan

perjuangan
tiada kata yang tepat tuk melukiskan
betapa hasrat tertumpah dalam asa
mencuat dalam ketinggian bintang

perjuangan
akhirnya kau menghasilkan senyuman
senyuman dari orang-orang yang mengharapkan
antara Dia, aku, kau dan mereka terjadi keharmonisan



rd, Jakarta Februari 2004

Pengorbanan

pengorbanan
tak cukup diungkapkan hanya dalam kata-kata
pun hayalan dan jua impian
apalagi mengobral obrolan

pengorbanan
ianya terpatri dalam perbuatan
diawali semburat pilu memerah
berselimutkan penderitaan

pengorbanan
laranya mengalirkan darah
memeras air mata
berlinangkan kepedihan

pengorbanan
tahukah kau maknanya yang hakiki?
berkacalah pada nabi Ibrahim AS yang mulia
dalam bait-bait usianya yang menua

pengorbanan
tahukah kau maknanya yang hakiki?
belajarlah pada nabi Ismail AS yang mulia
dalam perjalanan usianya yang belia

pengorbanan
membutuhkan gigihnya perjuangan
kokohnya keimanan
dan tingginya ketakwaan

tak cuma itu
pengorbanan membutuhkan keberanian,
keberanian ntuk kehilangan
yang dicintai,
yang dimiliki,
yang sayangi,
yang dikasihi.
semuanya larut dalam aliran penderitaan
yang berselimutkan kepedihan.

hanya pengorbanan
yang berlandaskan rasa cinta kepada-Nya
bermodalkan keikhlasan untuk-Nya
beribadah hanya kepada-Nya

akan melahirkan pohon kebahagian
berbuahkan pahala kebajikan
bermandikan cahaya keimanan
berjanjikan surga idaman

rantingnya akan menumbuhkan daun-daun keteduhan
yang akan melindungi insan dari teriknya kehidupan
ganasnya kemungkaran
mewabahnya kemaksiatan

akarnya akan mengumpulkan air-air kehidupan
tuk membasahi hati yang kekeringan
memuaskan insan yang kehausan
menyuburkan benih-benih keimanan

saudaraku
tiada keberhasilan tanpa perjuangan,
tiada perjuangan tanpa pengorbanan,
dan tiada perngorbanan yang tersia-siakan.

raihlah cinta-Nya
raihlah cinta-Nya
raihlah cinta-Nya


rd, Jakarta, 040203

Apologi Bagi Istriku Tercinta

Apologi Bagi Istriku Tercinta

sajak : Ahmad Usmar Almarwan

Isteriku, hanya dahaga yg dapat kuberikan padamu
setimpal ganjalan baru di perut Ali
Pertanyaan yg selalu ingin dicari
memecah sunyi dengan sepi

Isteriku, biarkan aku menjadi sayapmu
menemanimu melayang tinggi
melihat kearifan di langit kesturi
menyentuh kesucian di jubah Ar Rumi

Isteriku :
mataku bukanlah mata Ali
tangan bukanlah tangan Umar
hatiku tidaklah selembut Abu Bakar
akalku tidaklah setajam Abu Hurairah
jangan bandingkan aku dengan kezuhudan Ibnu Umar

aku hanya ingin sepetak surga;
takkan mungkin
ku menolah seperti Rabi'ah
takkan berani
ku berdoa seperti Abu Nawas

aku hanya ingin
membagikan lilin kecil dalam hatiku
kepadamu
dalam kokohnya kesetiaanmu
seperti Aisyah;

jangan tuntut aku 'ntuk berikan kesabaran
seperti Ya'kub : aku tak kuasa memukulmu !
kesadaranku adalah pencapaian akhirat
yg terbentuk kejumudan semu
tak bergeming satu tingkat di langit tirakat

kau lah pemantik apiknya
berikan aku spektrum asa
pencapaian tak berlogika
absurditas dengan kaya makna ;
telah kususuri segala ketidakmustahilan
dengan satu harap kan gapai kesucian dan ketinggian
dimana ku ada dan berada
dengan atau tanpa semua yg ada :
yg kutemukan hanya ketidakmengertian !
sungguh, ku hanya ingin sepetak surga
dengan sedikit pahala yg ada

Isteriku, belahan jiwaku
bisa jadi pencarianku tak berarti
bisa jadi pencarianku hanya ilusi
tak pernah menemukan diri
hingga aku mati

Isteriku, doakan aku, aku sepetak surgaku itu

Istriku...

Istriku

Istriku,
jangan pernah katakan cinta
jikalau hanya berbalutkan nafsu belaka

Istriku,
jangan pernah katakan cinta
jikalau hanya pemanis bibir saja

Istriku,
jangan pernah katakan cinta
jikalau hanya sebagai permainan kata2

Istriku,
jangan pernah katakan cinta
jikalau cintamu tanpa dilandasi cinta pada-Nya

rd, Bireuen Maret 2004

Tuk sekuntum mawarku

Tuk sekuntum mawarku

Tuk sekuntum mawarku
kau taburkan sejuta pesona
mahkotamu memancarkan rona
dalam setiap pancaran warna

Tuk sekuntum mawarku
yg menghiasi taman cinta
dengan berjuta cerita
dalam senandung kata

Tuk sekuntum mawarku
yg bermekaran dalam ruang2 hatiku.
:aku sayang padamu

rd, Bireuen Maret 2004

Sweet Grass Prayer

Saya menemukan puisi ini sudah lama sekali ketika ’surfing’ di internet, puisinya bagus sekali berjudul Sweet Grass Prayer, saya tidak tahu siapa yang menulisnya tapi kalau dari footnotenya berasal dari puisi suku indian pada festival di kanada.

Sweet Grass Prayer

Creator maker of all that is good
I wash my eyes to see the beauty in all of creation
I wash my ear so I can hear your voice
I wash my mouth so that I may choose my words with care
I wash my hands to create an be gentle
I wash my legs so they will be strong to carry me thru life
And I wash my heart to be kind loving and forgiving
All my relations

(Puisi Suku Indian, October Festival – BC. Canada 1999)

Tasbih Sejumput Rumput Cantik

Sang Khalik, Pencipta segala keindahan
Kubasahi mataku untuk dapat melihat semua keindahan ciptaan-Nya
Kubasahi telingaku, hingga dapat kudengar suara ayat-Mu
Kubasuh lisanku, agar dapat memilih ucap dan kata dengan bijak
Kubasuh tanganku agar dapat memberi dan mengasihi
Kucuci kedua kaki ini sehingga cukup kuat membawaku mengarungi kehidupan
Dan kusucikan hatiku agar menjadi pencinta dan pemaaf
Terhadap semua saudaraku, sesama makhluk-Nya

Thursday, April 01, 2004

Assalmu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ketika kita bertemu seseorang mungkin kita lebih senang mengucapkan selamat pagi ketika di pagi hari atau selamat siang, selamat sore ataupun selamat malam pada siang, sore maupun malam hari padahal kita tahu bahwa orang yang kita temui itu adalah seorang muslim juga. Namun sadarkah kita jikalau kata-kata tersebut berarti kita memberikan selamat hanya membatasi pada waktu-waktu tertentu saja, tidak perduli pada waktu-waktu lainnya selamat atau tidak mungkin bukan urusan kita.

Entah apakah karena kata-kata ini kita adobsi dari barat maka kata-kata inilah lebih sering kita ucapkan maupun sering kali terdengar ditelinga kita. Padahal ada kata-kata yang jauh lebih baik dan mulia dari itu, yaitu kata-kata salam yang diajarkan Islam kepada kita “Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh” yang artinya keselamatan, rahmat serta berkah Allah senantiasa untuk kalian. Hal ini berarti kita mendoakan yang bersangkutan secara terus menerus tanpa dibatasi waktu.

Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah menyuruh kita menyebarkan salam kepada sesama muslim agar tumbuh nilai-nilai cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan nilai-nilai persaudaraan diantara kita. Afsyu al-salam bainakum, demikian ungkap beliau. Dengan kata lain Rasulullah memerintahkan kita untuk membangun dan menciptakan budaya salam dalam kehidupan kita sehari-hari.

Secara psikologis, kita juga dapat merasakan dan membuktikan betapa ucapan salam memiliki daya magis yang luar biasa. Hati kita menjadi damai jika mendengar orang lain mengucapkannya, meskipun tidak ditujukan kepada kita. Maka, tidak heran jika Nabi saw. sangat menstimulasi umatnya untuk selalu mengucapkan salam secara sempurna.

Dari Abdullah bin Salam radhiayallahu ‘anhu ia berkata; “Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia! Sebarkanlah salam, hubungkanlah tali silaturrhahmi, berilah makan dan dirikanlah shalat malam di saat manusia tertidur lelap; niscaya kalian akan masuk surga dengan damai” (HR. Al-Tirmidzi; dan di-Shahihkan olehnya).

Oleh karena itu izinkan saya mengucapkan salam kepada anda sebagai awal jalinan silaturahim kita.