Ada suatu kisah yg menarik dari kisah-kisah menarik lainnya yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan para shahabat yang mengisahkan tentang kemuliaan akhlak generasi shahabat yg begitu mencintai Rasulullah dan saudara2nya seiman melebihi cintanya thd dirinya sendiri.
Seseorang telah datang menemui Rasulullah SAW dan menceritakan tentang kelaparan yg dideritanya.
Kebetulan pada saat itu baginda rasul tidak memiliki makanan sedikitpun baik pada dirinya maupun di rumahnya yg dapat diberikan kepada orang itu. Kemudian baginda rasul bertanya kepada para shahabat, "Adakah diantara kamu yg sanggup melayani orang ini sebagai tamu pada malam ini bagi pihak aku?"
Seseorang dari kaum anshor telah menyahut," Wahai Rasulullah SAW, aku sanggup menjadi tuan rumah bagi tamumu seperti yg engkau kehendaki".Orang anshor tsb lalu membawa orang tadi kerumahnya dan menerangkan pula kepada istrinya seraya berkata," Lihatlah bahwa orang ini adalah tamu Rasulullah SAW dan kita mesti melayaninya dgn sebaik-baiknya. Istriku, apakah kau masih mempunyai barang sedikit makanan yg dapat kita berikan untuk orang tsb?",
Istrinya menjawab, "Suamiku, Demi Allah! kita hanya mempunyai makanan sedikit, itupun persediaan makanan yg akan kita berikan kepada anak2 kita malam ini dan makanan itu hanya cukup untuk anak2 kita. kaupun tahu bahwa tadi siang kita berpuasa, agar makanan ini mencukupi bagi anak2 kita."
Orang anshor itupun kemudian berkata, "Kalau begitu tolong kau tidurkan anak2 kita terlebih dahulu dgn tidka memberikan makanan kepada mereka. Kau suguhkanlah seluruh makanan yg kita punya itu kepada tamu kita, isi piringnya dgn makanan yg memang hanya sedikit itu,kemudian saya akan menemaninya makan. Agar tamu itu tidak mengetahui bahwa piring saya kosong karena tiadanya makanan, maka pada saat akan dimulai tolonglah kau padamkan lampu di rumah kita . sehingga tamu itu tidak menyadari bahwa saya tidak makan bersamanya.
Akhirnya orang anshor dan istrinya itupun sepakat untuk menjalankan rencana mereka untuk menjamu tamu mereka. Mereka tidurkan anak2 mereka, dengan memberikan pengertian kepada mereka bahwa kita malam ini kedatangan tamu yg merupakan tamu dari Rasulullah SAW, dan kita akam memuliakan tamu itu dgn menghidangkan makanan yg kita punyai, akhirnya anak2 itupun tidur dgn menahan rasa laparnya.
Dan tamu itupun akhirnya menyantap hidangan yg diberikan oleh tuan rumah dengan lahap tanpa menyadari sedikitpun bahwa sesungguhnya tuan rumah yg menurutnya menemaninya makan itu ternyata tidak makan apapun yg dikarenakan mereka sudah tidak mempunyai makanan lagi."
Demikianlah, sungguh indah akhlak mereka, mereka berusaha untuk menyenangkan saudara2 mereka tanpa memberikan kesan bahwa sesungguhnya mereka sendiri berada dalam kesulitan.
Ketika Rasulullah SAW mentaakhi (mempersaudarakan) mereka (antara kaum anshor dan kaum muhajirin), kaum anshorpun dengan kerelaan dan keiklasan yg dilambari oleh rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan sebahagian dari apa yg mereka miliki kepada saudara2 mereka dari kaum muhajirin.
Allah pun berfirman dalam kitabnya, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan" (Al Hasy: 9)
Mereka mengatakan kepada saudara2 mereka, "Saya mencitai kalian karena Allah, sungguh! hanya dikarenakan Allah mencintai kalianlah sehingga Allah memberikan cinta-Nya kepadaku, sehingga akupun mencintai kalian karena-Nya".