Wednesday, April 11, 2007

Pintaku

Ya Allah...
acapkali jiwa tertipu oleh keindahan dunia
mata terhalang oleh kemilau harta
hati tenggelam oleh kenikmatan riya
asa dikejar berbalapan dengan waktu

hingga tak sadar...
bahwa semua itu mendorongku kejurang
membuatku alpa akan sekitar
menghanyutkanku kepusaran deras tak berarah

Ya Allah...
jangan Kau jadikan hidup ini tanpa makna
jangan Kau sumbat telinga ini
jangan Kau butakan mata ini
jangan Kau sia-siakan tubuh ini
jangan Kau keraskan hati ini

ijinkan ianya berguna bagi sesama
untuk mencapai ridha-Mu.
berilah hamba-Mu yang dhoif ini kekuatan,
dan juga keiklasan untuk berbagi kepada sesama
mulai saat ini juga

Iklas Dalam Berjuang

Rasulullah menatap satu persatu para sahabatnya yang sedang berkumpul dalam majelis, hening dan tawadhu. "Ya Rasulullah", ujar salah seorang hadirin memecahkan keheningan pada waktu itu, "Bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah engkau menjawabnya". "Apa yang engkau tanyakan itu?", tanya Rasulullah SAW dengan nada suara yang begitu lembut. Dengan sikap yang agak malu si sahabat itupun langsung bertanya: "Siapa diantara kami yang akan menjadi ahli surga?" Tiba-tiba bagaikan petir menyambar di tempat itu. Jiwa-jiwa yang tadinya tawadhu, nyaris menjadi luka karena murka. Sebab ini sungguh pertanyaan yang keterlaluan, setengah sahabat menilainya mengandung ujub (bangga atas diri sendiri) atau riya'. Adalah Umar bin Khattab yang sudah terlebih dahulu bereaksi, bangkit untuk menghardik si penanya. Untunglah Rasulullah menoleh kearahnya sambil berisyarat untuk menahan diri.

Rasulullah menatap ramah, beliau dengan tenangnya menjawab: "Engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi orangnya muncul". Lalu setiap pasang matapun menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebut ahli surga itu. Sesaat berlalu dan orang yang mereka tunggupun muncul. Namun tatkala orang itu mengucapkan salam lalu kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan mereka semakin bertambah. Jawaban Rasulullah rasanya tidak sesuai dengan logika. Sosok tubuh ini tidak lebih dari seorang pemuda sederhana yang tidak pernah tampil di permukaan. Ia adalah sepenggal wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tak ditanya atau tak pernah membuka suara bila tak diminta. Ia bukan termasuk dalam daftar sahabat yang dekat dengan Rasulullah. Apa sih kehebatannya??

Menjawab tanda tanya besar itu Rasulullah hanya menjawab: 'Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan Ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.

Ikhlas, alangkah indahnya makna yang terkandung di dalamnya. Ikhlas, bersih dari segala maksud-maksud pribadi, bersih dari segala pamrih dan riya'. Ikhlas, bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ikhlas dalam menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang kita harapkan, taati, cintai, takuti. Satu-satunya Dzat yang kita abdi. Ikhlas menerima Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam sebagai penjelas dan penyampai semua keinginan Allah, ikhlas menerima Al-Qur'an sebagai pedoman segala gerak kehidupan kita.

Pemuda yang ikhlas. Pemuda yang berkarakter kuat dan tak pernah mengenal lelah. Gerak perilakunya sama sekali tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya uang, kedudukan ataupun penghargaan. Baginya yang paling penting adalah Allah ridha kepadanya. Orientasi hidupnya jelas dan tegas, langkah pasti dan penuh harapan. Tak ada kata frustasi dalam hidupnya, tak ada kata putus asa dalam usahanya. jiwanya merdeka, hanya Allah yang mengendalikan dirinya.

Wallahu a'lam

Pelajaran

Imam Hasan al-Bashri berkata kepada seorang yang bersama-samanya sedang melayat jenazah,

"Apakah orang yang wafat itu kalau dikembalikan ke kehidupan dunia ia akan melakukan amal-amal shaleh?"

Jawab orang itu: "Ya, pasti."

Imam Hasan al-Bashri melanjutkan,"Kalau dia sudah tidak mungkin kembali,
sebaiknya Anda saja yang melakukannya".


Sinar Ketaqwaan Seorang Ulama

Pada suatu hari Hasan Al Bashri ditanya,
"Hari apa menurutmu yang patut dikatakan hari raya itu ya Abal Hasan?"
Hasan Al Bashri menjawab,
"Setiap hari pada hari itu aku tidak melakukan
maksiat kepada Allah Ta'ala."
Mereka bertanya lagi kepada Hasan,
"Apa rahasia zuhudmu dalam dunia ini ya Abal Hasan?"

Hasan Al Bashri menjawab,

"Aku tahu rizqiku tidak akan diambil oleh orang lain,
karena itulah kalbuku selalu tenang.

Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat
ditunaikan oleh orang lain,
karena itulah aku sibuk mengerjakannya.

Aku tahu Allah Swt selalu mengamatiku,
karena itulah aku selalu merasa malu
bila Dia melihatku dalam keadaan maksiat.

Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku,
karena itulah aku selalu menambah bekal untuk
hari pertemuanku dengan Allah Azza wa jalla".

Mendidik Anak

"Jika anak-anak didik dan diasuh dengan ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik , mereka akan hidup bahagia apabila mereka besar kelak . Ibu bapa , guru-guru dan pendidik-pendidik mereka sama-sama mendapat pahalana . Tetapi kalau mereka dibiarkan berbuat perkara-perkara yang buruk dan tidak mendapat didikan yang sempurna , akan celaka dan sengsara hidup mereka apabila apabila mereka besar kelak . Ibu bapa dan para penjaga merekalah yang menanggung akibat dan dosa itu".
(Imam Al-Ghazali)

Anakku


Anakku...
Di awal perjalanan waktumu ingin kusampaikan kepadamu beberapa patah kata yang kuharapkan dapat menjadi bekal yang memberikan warna indah bagi perjalanan hidupmu.

Anakku...
Masih segar didalam ingatanku, tangisanmu yang nyaring ketika engkau lahir di dunia ini. Masih segar dalam pandaganku bagaimana kaurepotkan ummimu dengan rasa hausmu akan rasa kasih sayangnya.
Tahukah engkau betapa besar rasa cinta kami kepadamu?
Sengaja kami pilihkan nama yang terindah bagimu nak, semoga indah pula masa depanmu.

Duhai anakku...
Berbagialah dengan apa yang ada pada dirimu.
Apa yang dianugerahkan oleh Allah SWT adalah apa yang terbaik untukmu.
Bersyukurlah dengan semua nikmat yang telah IA berikan kepadamu, dan bersabarlah dengan
ujian yang datang kepadamu. Ingatlah! sesungguhnya Allah SWT tidak menghendaki keburukan bagi kita, sesungguhnya IA Maha Bijaksana.

Anakku..
Jadikanlah dirimu manusia yang berguna, agar tidak sia-sia Allah menciptakanmu.
Bersungguh-sungguhlah dalam menempuh perjalanan hidupmu, karena dengan penuh kesungguhan pula IA telah menciptakanmu. Milikilah sebuah cita-cita yang luhur dan mulia karena ia merupakan penggerak jiwa yang luar biasa, tonikum yang menyegarkan seluruh sel-sel tubuhmu, serta pembakar semangat yang tak habis-habisnya !
Dan, dengan senantiasa memohon pertolongan-Nya, raihlah tujuan hidupmu dengan cara
terhormat ! Sesungguhnya manusia yang tidak mempunyai tujuan dalam hidupnya adalah
manusia yang juga tidak mempunyai masa depan, dan manusia yang menghalalkan segala cara
untuk meraih harapan-harapannya adalah manusia yang menabung derita.

Duhai Anakku...
Ingatlah selalu bahwa Allah Swt. adalah Yang Terbaik untuk dicintai.
Bila kau dapatkan cinta-Nya maka telah kau miliki segala-galanya, karena Dia-lah Yang Maha Kaya. Sebaliknya mereka yang kehilangan cinta-Nya adalah orang-orang yang telah kehilangan segala-galanya. Berjuanglah dengan sepenuh hati. Jangan biarkan keragu-raguan menggerogoti akal dan jiwamu. Akhirnya, jadikanlah saat pertemuanmu dengan-Nya kelak, dengan Sahabat Yang Maha Tinggi, adalah saat terindah dalam hidupmu !!

Anakku...
Abi petikkan nasehat Lukman Al Hakim kepada anaknya agar senantiasa kau ingat selalu dalam setiap langkah perjalanan hidupmu.

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan
kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang
pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa
menikmati lezatnya berdzikir.”
“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak
engkau akan memerik buahnya dan menikmatinya.”
“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan
engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan
nafsu duniamu.”
“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”
“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan
yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”
“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”
“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:
1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu.
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.


Yang selalu berdo'a untukmu,
Abi dan ummimu

Tuesday, April 03, 2007

Buah Hatiku yang sedang lucu-lucunya



Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas anugrah terindah darimu, kami beri nama Annisa Shafa Syahidah (Wanita yang berhati bersih yang bercita-cita menjadi syahidah)

Sepatang Mata

Prolog: Sepasang Mata

Aku adalah sepasang mata.
Aku suka sekali nonton televisi baik film, sinetron maupun telenovela.
Pertandingan sepakbola pun tak luput ku kejar sampai larut malam,
bahkan game-game anyar komputer pun tak bosan ku sikat.
Tetapi... aku sulit sekali membuka kelopakku untuk bangun di pertengahan malam untuk bermunajad kepada Allah.
Dan aku juga sulit sekali membuka kelopakku ketika adzan Shubuh berkumandang memanggil hamba-Nya untuk segera shalat, apalagi dimusim hujan dan dingin begini.
Aku juga sering tidak menundukkan pandanganku.
Padahal aku tahu, itu adalah hal yang sangat buruk.
Sebenarnya aku ingin sekali untuk selalu membuka kelopakku untuk bangun di tengah malam untuk bisa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan padaku berupa bentukku yang indah dan bisa memandang semua ciptaan-Nya yang mengagumkan.
Dan aku bisa mudah membuka kelopakku ketika adzan Shubuh berkumandang sehingga tidak terlambat shalat jama'ah Shubuh di masjid.
Aku juga ingin menghilangkan ketergantunganku pada televisi.
Aku ingin...dan aku ingin...
akh... keinginanku selalu tak bertahan lama...
Lalu...bagaimana caraku merubahnya?

Saudaraku...
prolog diatas adalah kisah sepasang mata, yah sepatang mata yang kita miliki ini seandainya diberi kesempatan berbicara saat ini tentu ia akan mengeluh, mengeluh karena ia kita gunakan untuk hal-hal yg lebih banyak tidak bergunanya ketimbang hal yang berguna. Padahal kita tahu bahwa Allah mewanti-wanti agar menjaga mata kita dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

Saudaraku...
kadang kala kesadaran kita timbul manakala kita merenungi hakikat penciptaan kita, namun ianya akan tenggelam kembali ditelan oleh perubahan sang waktu dan zaman manakala kita tidak berusaha memperbaikinya secara intens sehingga sia-sialah akan keberadaannya.
Seperti halnya pohon yg membutuhkan pupuk agar ianya tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bermanfaat, namun jika pohon tsb tidak pernah kita rawat dan kita pupuk kita tidak akan pernah mendapatkannya sesuai dengan keinginan kita.
Begitu pula dengan kesadaran, jika kita biarkan tanpa adanya tindakan, maka ianya akan kembali redup dan hilang dihisap oleh kekuatan nafsu kita.

Saudaraku...
seperti yang kita ketahui, seluruh anggota tubuh kita baik mata, telinga, lidah, mulut sampai dengan sel-sel yang terkecil digerakkan dan dikontrol oleh otak kita melalui berjuta-juta sistem syarafnya. Subhanallah, sungguh mengagumkan sekali kinerja otak kita ini, sehingga muncullah ilmu pengetahuan yang mengubah peradaban manusia. Banyak hal-hal yang baik dan bermanfaat dihasilkan oleh kemampuan otak kita, namun ternyata hal-hal yang buruk dan merusakpun juga tak dapat kita pungkiri juga hasil dari kerja otak manusia.

Namun perlu kita sadari bahwasanya semua itu ternyata berasal dari satu sumber, yaitu hati kita. Ternyata hati kitalah yg dapat menentukan hasil kinerja otak dan seluruh tubuh kita apakah menuju kebaikan ataukah keburukan. Seperti halnya Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya didalam diri manusia itu ada Mutgoh (segumpal darah) jika mutgohnya baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya tetapi jika mutgohnya buruk maka akan buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa mutgoh itu adalah Hati".

Saudaraku...
Orang yang hatinya selalu dibersihkan dan dijaga, insya Allah akan tercermin pada perbuatannya, sedangkan orang yang hatinya tak pernah dibersihkan lambat laun akan kusam dan berkarat bahkan bisa keras dan membeku. Nauzubillah...

Saudaraku...
Para shahabat dan orang-orang beriman selalu menjaga dan memperhatikan hati mereka. DR Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiah Ruhiyah menekankan setidaknya 5 hal yang harus dikerjakan oleh seorang mukmin agar dapat menumbuh suburkan taqwa,mengokohkan hati dan jiwa serta menyatukannya dengan perasaan yang tersalurkan dalam setiap gerak anggota tubuhnya.
Kelima hal tersebut adalah:
1. Mu'ahadah (mengingat perjanjian)
2. Muroqobah (merasakan kesertaan Allah)
3. Muhassabah (Intropeksi diri)
4. Muaqobah (pemberian sanksi)
5. Mujahadah (optimalisasi diri)

Saudaraku...
Setelah kesadaran kita timbul ketika kita melakukan mu'ahadah dan muroqobah dan kita mendapati sekumpulan dosa kita yang menggunung tatkala kita bermuhasabah maka hendaklah dengan azam (tekat) yang kuat kita perbaiki tingkah laku kita, kita bertaubat kepada-Nya, kita memohon agar diberikan kekuatan untuk selalu berada dijalan-Nya.

Namun jika kemudian kita telah melanggar dari apa yang telah kita planningkan maka hendaknya kita muaqobah diri kita, seperti halnya Umar RA yang bermuaqobah dengan menginfaqkan kebunnya, ketika Umar ketinggalan sholat ashar berjama'ah akibat keasyikan dalam mengurus dan menikmati keindahan kebunnya. Ataupun Abu Tholhah yang memberi sanksi kepada dirinya dengan menginfakkan kebunnya tatkala Abu Thalhah lupa telah berapa raka'at dia sholat akibat asyiknya beliau memperhatikan keindahan burung indah nan merdu yang tiba-tiba saja melintas dan berhenti tepat dihadapannya ketika ia sedang sholat.

Saudaraku...
Yang patut kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah...
Mampukah kita memberi sanksi pada diri kita seperti halnya para sahabat memberi sanksi kepada diri mereka ketika mereka mendapati diri mereka telah lalai?
Mungkin kita akan mendapati tingkat keimanan kita jauh sekali jika dibandingkan dengan para shahabat sehingga kita tak akan mampu bermuaqobah seperti halnya mereka. Namun yang perlu kita perhatikan adalah kita telah berusaha untuk secara intens memperbaiki diri kita sesuai dengan kemampuan kita.

Saudaraku...
Marilah sama-sama kita mulai dari sekarang dengan dilandasi dengan niat yang lurus dan jiwa yang bersih,
kita berazam untuk menjadikan hari-hari mendatang kita lebih baik dari yang sekarang dan yang telah lalu dengan terus berkomitmen untuk selalu berada pada jalan yang telah digariskan oleh-Nya.

Wallahu a'lam

Hari genee masih nge-jomblo (buat para bujang)

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
tidakkah kau ingin menanam sekuntum bunga di taman hatimu
memelihara dan merawatnya sehingga kelopaknya
memberikan warna dalam kehidupanmu

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
tidakkah kau ingin mencitai dan dicintai
sehingga energi cintanya dapat menambah pelita hidupmu
pengingat dikala alpa, penghibur dikala duka

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
tidakkah kau ingin ada yang menemani dalam berjuang
merajut asa dalam mahligai rumah tangga
susah senang dihadapi bersama

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
tidakkah kau ingin menggetarkan langit dengan mitsaqon ghaliza
menjalin setiap episode kehidupan
dengan cinta dan kasih sayang

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
sementara bait-bait usiamu semakin menua
ma’isyah sudah, apalagi yang kau kuatirkan
tidakkah kau tertarik dengan wanita sholihah
yang mencintaimu sepenuh jiwa

Saudaraku yang masih lajang apa kabarmu hari ini
kenapa kau masih suka dalam kesendirian
ahh… hanya kau sendiri yg bisa menjawabnya

:prihatin kepada saudaraku yang sudah berumur tapi blum menikah juga