Prolog: Sepasang Mata
Aku adalah sepasang mata.
Aku suka sekali nonton televisi baik film, sinetron maupun telenovela.
Pertandingan sepakbola pun tak luput ku kejar sampai larut malam,
bahkan game-game anyar komputer pun tak bosan ku sikat.
Tetapi... aku sulit sekali membuka kelopakku untuk bangun di pertengahan malam untuk bermunajad kepada Allah.
Dan aku juga sulit sekali membuka kelopakku ketika adzan Shubuh berkumandang memanggil hamba-Nya untuk segera shalat, apalagi dimusim hujan dan dingin begini.
Aku juga sering tidak menundukkan pandanganku.
Padahal aku tahu, itu adalah hal yang sangat buruk.
Sebenarnya aku ingin sekali untuk selalu membuka kelopakku untuk bangun di tengah malam untuk bisa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan padaku berupa bentukku yang indah dan bisa memandang semua ciptaan-Nya yang mengagumkan.
Dan aku bisa mudah membuka kelopakku ketika adzan Shubuh berkumandang sehingga tidak terlambat shalat jama'ah Shubuh di masjid.
Aku juga ingin menghilangkan ketergantunganku pada televisi.
Aku ingin...dan aku ingin...
akh... keinginanku selalu tak bertahan lama...
Lalu...bagaimana caraku merubahnya?
Saudaraku...
prolog diatas adalah kisah sepasang mata, yah sepatang mata yang kita miliki ini seandainya diberi kesempatan berbicara saat ini tentu ia akan mengeluh, mengeluh karena ia kita gunakan untuk hal-hal yg lebih banyak tidak bergunanya ketimbang hal yang berguna. Padahal kita tahu bahwa Allah mewanti-wanti agar menjaga mata kita dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.
Saudaraku...
kadang kala kesadaran kita timbul manakala kita merenungi hakikat penciptaan kita, namun ianya akan tenggelam kembali ditelan oleh perubahan sang waktu dan zaman manakala kita tidak berusaha memperbaikinya secara intens sehingga sia-sialah akan keberadaannya.
Seperti halnya pohon yg membutuhkan pupuk agar ianya tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bermanfaat, namun jika pohon tsb tidak pernah kita rawat dan kita pupuk kita tidak akan pernah mendapatkannya sesuai dengan keinginan kita.
Begitu pula dengan kesadaran, jika kita biarkan tanpa adanya tindakan, maka ianya akan kembali redup dan hilang dihisap oleh kekuatan nafsu kita.
Saudaraku...
seperti yang kita ketahui, seluruh anggota tubuh kita baik mata, telinga, lidah, mulut sampai dengan sel-sel yang terkecil digerakkan dan dikontrol oleh otak kita melalui berjuta-juta sistem syarafnya. Subhanallah, sungguh mengagumkan sekali kinerja otak kita ini, sehingga muncullah ilmu pengetahuan yang mengubah peradaban manusia. Banyak hal-hal yang baik dan bermanfaat dihasilkan oleh kemampuan otak kita, namun ternyata hal-hal yang buruk dan merusakpun juga tak dapat kita pungkiri juga hasil dari kerja otak manusia.
Namun perlu kita sadari bahwasanya semua itu ternyata berasal dari satu sumber, yaitu hati kita. Ternyata hati kitalah yg dapat menentukan hasil kinerja otak dan seluruh tubuh kita apakah menuju kebaikan ataukah keburukan. Seperti halnya Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya didalam diri manusia itu ada Mutgoh (segumpal darah) jika mutgohnya baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya tetapi jika mutgohnya buruk maka akan buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa mutgoh itu adalah Hati".Saudaraku...
Orang yang hatinya selalu dibersihkan dan dijaga, insya Allah akan tercermin pada perbuatannya, sedangkan orang yang hatinya tak pernah dibersihkan lambat laun akan kusam dan berkarat bahkan bisa keras dan membeku. Nauzubillah...
Saudaraku...
Para shahabat dan orang-orang beriman selalu menjaga dan memperhatikan hati mereka. DR Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiah Ruhiyah menekankan setidaknya 5 hal yang harus dikerjakan oleh seorang mukmin agar dapat menumbuh suburkan taqwa,mengokohkan hati dan jiwa serta menyatukannya dengan perasaan yang tersalurkan dalam setiap gerak anggota tubuhnya.
Kelima hal tersebut adalah:
1. Mu'ahadah (mengingat perjanjian)
2. Muroqobah (merasakan kesertaan Allah)
3. Muhassabah (Intropeksi diri)
4. Muaqobah (pemberian sanksi)
5. Mujahadah (optimalisasi diri)
Saudaraku...
Setelah kesadaran kita timbul ketika kita melakukan mu'ahadah dan muroqobah dan kita mendapati sekumpulan dosa kita yang menggunung tatkala kita bermuhasabah maka hendaklah dengan azam (tekat) yang kuat kita perbaiki tingkah laku kita, kita bertaubat kepada-Nya, kita memohon agar diberikan kekuatan untuk selalu berada dijalan-Nya.
Namun jika kemudian kita telah melanggar dari apa yang telah kita planningkan maka hendaknya kita muaqobah diri kita, seperti halnya Umar RA yang bermuaqobah dengan menginfaqkan kebunnya, ketika Umar ketinggalan sholat ashar berjama'ah akibat keasyikan dalam mengurus dan menikmati keindahan kebunnya. Ataupun Abu Tholhah yang memberi sanksi kepada dirinya dengan menginfakkan kebunnya tatkala Abu Thalhah lupa telah berapa raka'at dia sholat akibat asyiknya beliau memperhatikan keindahan burung indah nan merdu yang tiba-tiba saja melintas dan berhenti tepat dihadapannya ketika ia sedang sholat.
Saudaraku...
Yang patut kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah...
Mampukah kita memberi sanksi pada diri kita seperti halnya para sahabat memberi sanksi kepada diri mereka ketika mereka mendapati diri mereka telah lalai?
Mungkin kita akan mendapati tingkat keimanan kita jauh sekali jika dibandingkan dengan para shahabat sehingga kita tak akan mampu bermuaqobah seperti halnya mereka. Namun yang perlu kita perhatikan adalah kita telah berusaha untuk secara intens memperbaiki diri kita sesuai dengan kemampuan kita.
Saudaraku...
Marilah sama-sama kita mulai dari sekarang dengan dilandasi dengan niat yang lurus dan jiwa yang bersih,
kita berazam untuk menjadikan hari-hari mendatang kita lebih baik dari yang sekarang dan yang telah lalu dengan terus berkomitmen untuk selalu berada pada jalan yang telah digariskan oleh-Nya.
Wallahu a'lam